Ketika saya pulang di sebuah senja, saya masih melihatnya duduk di sana. Seorang wanita empat puluhan duduk dalam kiosnya di tepi seruas jalan di kotaku yang telah ribuan kali kulewati. Puluhan tahun yang lalu ketika usia saya masih belum genap sembilan tahun, kios itu sudah ada disana. Menjajakan majalah, koran, dan sejumlah barang kelontong.

Dulu pernah kalo mo ganti alamat address (blogspot) nggak ngerti. Terpaksa bikin blog baru dengan address baru walau isi content tetap sama. Ternyata ada cara bagaimana mengganti alamat blog dengan alamat yang lebih kita sukai, jadi tidak perlu lagi membuat blog baru. Nah untuk menggantinya ikuti langkah dibawah ini:
1. Login ke blog anda dan masuk halaman Dashboard anda
2. Klik Setting
3. Klik tombol Publishing
4. Disebelah Blog*Spot Address ada alamat blog anda
5. Silakan ganti dgn alamat baru
6. Masukkan kode di word Verification form
7. Kemudian Save setting
8. Jika alamat blog anda sudah ada yang menggunakan akan ada tulisa muncul Sorry, this blog address is not available
9. Silakan isi kembali alamat blog anda yang dgn yang lain sampai muncul tulisan Subject to availability.
10. Kemudian klik kembali tombol Save Setting
11. Selesai
Selamat Nyobain!!
Dapat kiriman email dari teman yg sumbernya saya kurang tahu. Tapi kalo diperhatikan sepertinya sumber itu berasal dari sebuah milis. Cukup mengguggah juga postingannya. Walau moment puasa dan idul fitri telah lewat, tapi postingan ini cukup untuk menjadi renungan bagi kita semua.
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Selengkapnya..>>Author: Abu Aufa
Bangunan itu tampak lusuh, cat yang memudar dan lumut menyelimuti dinding tuanya. Di sekelilingnya, semak belukar laksana taman bunga yang indah bermekaran. Lirih rintihan tangis, tawa yang sumbang bahkan teriakan menyayat perasaan kadang terdengar hingga kejauhan. Pedih dan tampak suram, menyiratkan perasaan muram penghuninya.
Nanar, dan mata yang menerawang menjadi pemandangan biasa. Tersisih dari regukan kasih sayang, lalu teronggok lemah dalam belenggu kerinduan yang menguliti renta jiwanya. Merenung dan melamun seakan menjadi rutinitas harian, mengingat masa lalu saat meretas masa depan buah hati tercinta.
Selengkapnya..>>Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ?dipaksa? membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Selengkapnya..>>Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.
Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.
Selengkapnya..>>
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung . Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30 .. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.
Selengkapnya..>>Pagi ini Murti sedang asyik bermain game di komputernya, di kantor. Dari tadi gagal melulu, sekarang sudah hampir menang. Tanpa disangka, ada orang yang berdiri di belakangnya dan memandangi game tersebut.
Murti tetap konsentrasi penuh. Paling-paling Yudi yang berdiri di belakangnya, pikirnya. Beberapa menit kemudian, akhirnya Murti menang. Aduh senangnya. Sampai-sampai dia berteriak:"Yes!!!", sambil mengepalkan tangan kanannya.
Selengkapnya..>>


